MASIH MEROKOK...ATAU AKAN MEROKOK....????
“Masih banyak mahasiswa yang menikmati sebatang rokok sambil
menunggu dosen masuk kelas”, itu yang jadi trend dan kebiasaan buat yang
perokok di sekitar kampus.
Akan dengan mudah kita menemukan pembakar-pembakar tembakau di lingkungan kampus. Mulai dari mahasiswa, karyawan dan bahkan dosen sekalipun.
Walaupun ada nya peraturan dilarang merokok di daerah atau ruangan tertentu, namun seakan – akan larangan itu di pandang sebelah mata oleh orang yang merokok. Disamping karena sudah menjadi kebiasaan, tidak adanya peraturan yang melarang merokok di kawasan kampus merupakan salah satu alasan yang membuat sebagian orang masih tetap menikmati batang demi batang lintingan tembakau beracun tersebut. Merokok adalah kebiasaan yang sulit di hilangkan, karena dengan merokok bagi orang yang merokok adalah kegiatan yang dirasakan sangat nikmat..
Akan dengan mudah kita menemukan pembakar-pembakar tembakau di lingkungan kampus. Mulai dari mahasiswa, karyawan dan bahkan dosen sekalipun.
Walaupun ada nya peraturan dilarang merokok di daerah atau ruangan tertentu, namun seakan – akan larangan itu di pandang sebelah mata oleh orang yang merokok. Disamping karena sudah menjadi kebiasaan, tidak adanya peraturan yang melarang merokok di kawasan kampus merupakan salah satu alasan yang membuat sebagian orang masih tetap menikmati batang demi batang lintingan tembakau beracun tersebut. Merokok adalah kebiasaan yang sulit di hilangkan, karena dengan merokok bagi orang yang merokok adalah kegiatan yang dirasakan sangat nikmat..
Latar belakang orang ingin merokok beraneka ragam, di kalangan remaja dan
dewasa pria atau wanita adalah faktor
gengsi dan agar disebut jagoan, malahan ada salah satu pepatah menarik yang
digunakan sebagai pembenar atas kebiasaan merokok yaitu `ada ayam jago
diatas genteng, ngga merokok ngga ganteng`. Sedangkan kalangan orang tua,
stres dan karena ketagihan adalah faktor penyebab keinginan untuk merokok.
Berikut
ini berbagai pendapat tentang merokok dan dampak rokok bagi diri sendiri :
MEROKOK
MENURUT PAKAR PSIKOLOG
Tomkins (dalam sarafino, 1994) mengungkapkan empat alasan psikologis mengenai keputusan seseorang untuk tetap merokok,
yaitu :
Pertama untuk mendapatkan efek positif karena merokok adalah
stimulasi,relaksasi, serta kesenangan
Kedua
untuk mengurangi efek negative, yaitu untuk menghindari kecemasan serta ketegangan
Ketiga
adalah kebiasaan yang secara otomatis dilakukan tanpa kesadaran
Keempat
adalah dengan adanya ketergantungan psikologis pada rokok untuk mengatur keadaan emosional
negative dan positif
Aktivitas psikologis
berupa asosiasi individu terhadap
rokok yang dihisap
yang dianggap mampu meningkatkan :
Daya konsentrasi,
Memperlancar kemampuan pemecahan masalah, meredakan
ketegangan
Meningkatkan
kepercayaan diri
Penghalau
kesepian .
FAKTOR MENGAPA SESEORANG MEROKOK
Ada berbagai alasan yang dikemukakan
oleh para ahli untuk menjawab
mengapa seseorang merokok.
Menurut
Oskamp, mulai
merokok
terjadi akibat pengaruh lingkungan
sosial : teman-teman, kawan sebaya,
orang tua, saudara-saudara dan media.
Sedangkan
menurut smet (1994)
menyatakan bahwa seseorang merokok
karena faktor-faktor sosio cultural
seperti kebiasaan budaya, kelas sosial,
gengsi dan tingkat pendidikan.
MEROKOK MENURUT KESEHATAN
Oleh
: Dr.Andri,SpKJ
Psikiater, Anggota The American Psychosomatic Society dan Anggota The Academy of Psychosomatic Medicine, Dosen Psikiatri FK UKRIDA, Staf Publikasi Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI)
Psikiater, Anggota The American Psychosomatic Society dan Anggota The Academy of Psychosomatic Medicine, Dosen Psikiatri FK UKRIDA, Staf Publikasi Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI)
Beberapa
hari ini dikabarkan kalau Menkes kita ibu Endang mengalami kanker paru-paru.
Penyakit yang sebenarnya bukan baru ini sudah lama diketahui dihubungkan dengan
kebiaasaan merokok pada individu. Walaupun bukan satu-satunya penyebab kanker
paru-paru, merokok mempunyai kontribusi yang besar terhadap penyakit ini.
Terkadang orang kesulitan jika sudah terjebak dalam kecanduan rokok. Segala
cara sudah dilakukan namun tetap juga tidak bisa menghentikan kebiasaan ini.
Dalam artikel ini akan dibahas lebih jauh mengapa orang bisa mencandu rokok.
“Nikmat”
Nikotin Bagi Perokok
Nikotin dalam rokok memberikan efek stimulasi otak seperti memperbaiki perhatian, belajar, waktu reaksi seseorang dan kemampuan menyelesaikan masalah. Perokok juga sering mengatakan bahwa merokok memperbaiki suasana perasaan mereka, mengurangi tekanan dan mengurangi perasaan depresif. Beberapa wanita menyukai rokok di antaranya karena dapat menekan nafsu makan dan mengurangi berat badan.
Hal
ini yang membuat ketika seseorang sudah mulai menghisap rokok maka ia
kemungkinan besar akan sulit lepas dari ketergantungannya itu. Apalagi bila
ditambah dengan lingkungan sosial yang mendukung perilaku merokok seperti
teman, orang tua yang merokok dan iklan rokok yang sangat kuat mendukung
perilaku ini.
MEROKOK
MENURUT PAKAR BUDAYA
Prof. Dr.
Ayu Sutarto adalah Budayawan dan Pengamat Sosial.
Ketika saya dimintai pendapat
saya berbicara dari perspektif budaya. Rokok sudah dikenal selama berabad-abad
di negeri ini. Rokok telah menjadi bagian penting dalam kehidupan
sosial-budaya. Simak saja, dalam berbagai perhelatan, baik yang bernuansa adat
maupun reiigi, masyarakat pedesaan selalu menghadirkan rokok sebagai bagian
penting. Dalam ranah sosial, rokok telah menjadi instrumen untuk memperkuat
kohesi sosial. Bagi sebagian orang, seperti juga telah ditulis Pak Nasim, rokok
dapat mendorong pikiran dan bicara menjadi cair dan mengalir. Sebagai seorang
peneliti masalah sosial-budaya, saya mengamati juga peran dan fungsi rokok
dalam masyarakat. Orang Tengger, misalnya, laki-laki, perempuan, dan anak-anak
merokok semua.
Sumber : Dikutip dari RADAR JEMBER, Rabu 9 Februari 2011.
MEROKOK
MENURUT AGAMA
MENURUT AGAMA ISLAM
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa kontroversial. Melalui Ijtima` Ulama Komisi Fatwa MUI ke III, 24-25 Januari 2009, di Sumatera Barat, ditetapkan bahwa merokok adalah haram bagi anak-anak, ibu hamil, dan dilakukan di tempat-tempat umum. Sebagai bentuk keteladanan, diharamkan bagi pengurus MUI untuk merokok dalam kondisi yang bagaimanapun. Alasan pengharaman ini karena merokok termasuk perbuatan mencelakakan diri sendiri. Merokok lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya (itsmuhu akbaru min naf`ihi). MUI mengeluarkan fatwa tersebut berdasarkan firman Allah SWT “Jangan kalian bunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah maha penyayang terhadap diri kalian.“ (An-Nisa: 29). “Jangan kalian lemparkan diri kalian dalam kehancuran.” (Al-Baqarah: 195).
(Oleh Abd Moqsith Ghazal )
MENURUT AGAMA KRISTEN
Dapatkah merokok
dianggap “menguntungkan” (1 Korintus 6:12)? Dapatkah dikatakan bahwa merokok
benar-benar “memuliakan Allah dengan tubuhmu” (1 Korintus 6:20)? Dapatkah
seseorang dengan jujur merokok “untuk memuliakan Allah?” (1 Korintus 10:31)?
Kita percaya bahwa jawaban dari ketiga pertanyaan itu adalah “tidak.” Karena
itu, kita percaya bahwa merokok adalah dosa, dan karenanya tidak sepatutnya
dilakukan oleh para pengikut Yesus Kristus.
MENURUT
AGAMA BUDHA
Rokok adalah sejenis
obat penenang ringan. (obat penenang jenis berat
adalah morphin yang mampu memabukkan, membius atau membuat orang tidak
sadar). karena sifatnya yang ringan, rokok tidak termasuk barang yang
membuat lemahnya kesadaran secara berkelanjutan dalam waktu lama, apalagi membuat hilangnya kesadaran.
Di sisi lain, rokok bersifat mencandui, yaitu membuat pengguna ketagihan,
membuat ketergantungan padanya. Mengacu pada sila kelima dalam Pancasila
buddhis, istilah 'ketagihan' ini tidak termasuk dalam cakupan sila itu,
karena, yang tersebut di sana adalah 'barang/minuman yang memabukkan'
bukan 'barang/minuman yang membuat ketagihan'.
karena ciri yang demikian ini, rokok menurut kriteria sila dalam Agama
Buddha, sehingga riskan dikategorikan sebagai benda yang menjadi objek
pelanggaran sila kelima dalam Pancasila buddhis.
Sumber : (Bhikkhu Dhammadhiro)
adalah morphin yang mampu memabukkan, membius atau membuat orang tidak
sadar). karena sifatnya yang ringan, rokok tidak termasuk barang yang
membuat lemahnya kesadaran secara berkelanjutan dalam waktu lama, apalagi membuat hilangnya kesadaran.
Di sisi lain, rokok bersifat mencandui, yaitu membuat pengguna ketagihan,
membuat ketergantungan padanya. Mengacu pada sila kelima dalam Pancasila
buddhis, istilah 'ketagihan' ini tidak termasuk dalam cakupan sila itu,
karena, yang tersebut di sana adalah 'barang/minuman yang memabukkan'
bukan 'barang/minuman yang membuat ketagihan'.
karena ciri yang demikian ini, rokok menurut kriteria sila dalam Agama
Buddha, sehingga riskan dikategorikan sebagai benda yang menjadi objek
pelanggaran sila kelima dalam Pancasila buddhis.
Sumber : (Bhikkhu Dhammadhiro)
MENURUT AGAMA HINDU
Tatwa
Triguna
Dalam ajaran Hindu, sifat makanan atau konsumsi dalam hidup dan kehidupan manusia dikelompokkan dalam beberapa dua jenis:
Pertama, jenis makanan/konsumsi yang diperbolehkan yaitu Satwika Guna adalah makanan yang jika dikonsumsi dapat meningkatkan kualitas hidup, umur panjang, kekuatan, tenaga, rasa nyaman, keriangan, kecerdasan, ketiadaan penyakit dan kesehatan.
Kedua, jenis makanan/konsumsi yang dilarang yaitu Rajasika Guna dan Tamasika Guna. Rajasika Guna adalah makanan yang jika dikonsumsi dapat menimbulkan sikap kemarahan (emosional), agresif, kesakitan, duka cita, kepedihan, penderitaan dan penyakit. Sedangkan Tamasika Guna adalah makanan yang jika dikonsumsi akan menimbulkan kemalasan, ketidakpedulian, pasif, keras kepala, kebodohan dan penyakit.
Dengan demikian, jika ditinjau dari kedua jenis makanan konsumsi di atas, maka merokok termasuk dalam jenis makanan/konsumsi yang dilarang karena mengandung sifat Rajasika Guna dan Tamasika Guna.
Dalam ajaran Hindu, sifat makanan atau konsumsi dalam hidup dan kehidupan manusia dikelompokkan dalam beberapa dua jenis:
Pertama, jenis makanan/konsumsi yang diperbolehkan yaitu Satwika Guna adalah makanan yang jika dikonsumsi dapat meningkatkan kualitas hidup, umur panjang, kekuatan, tenaga, rasa nyaman, keriangan, kecerdasan, ketiadaan penyakit dan kesehatan.
Kedua, jenis makanan/konsumsi yang dilarang yaitu Rajasika Guna dan Tamasika Guna. Rajasika Guna adalah makanan yang jika dikonsumsi dapat menimbulkan sikap kemarahan (emosional), agresif, kesakitan, duka cita, kepedihan, penderitaan dan penyakit. Sedangkan Tamasika Guna adalah makanan yang jika dikonsumsi akan menimbulkan kemalasan, ketidakpedulian, pasif, keras kepala, kebodohan dan penyakit.
Dengan demikian, jika ditinjau dari kedua jenis makanan konsumsi di atas, maka merokok termasuk dalam jenis makanan/konsumsi yang dilarang karena mengandung sifat Rajasika Guna dan Tamasika Guna.
Sumber :GERAKAN ANTI TEMBAKAU DAN ROKOK INDONESIA
(GATRI)
Bahaya Nikotin Bagi Perokok
Semua orang yang merokok pasti tahu bahaya merokok. Dalam setiap kemasan dan
iklan rokok, bahaya rokok selalu dicantumkan. Rokok meningkatkan risiko kanker
terutama kanker paru pada seseorang. Rokok juga memiliki kontribusi terhadap
gangguan
jantung dan pembuluh darah penghisapnya. Rokok meningkatkan terjadinya angka
kesakitan pasien di usia lanjur berhubungan dengan kesehatan paru-parunya. Bagi
wanita hamil, rokok berbahaya bagi janin yang terkandung di dalam perutnya.
Bayi lahir rendah merupakan salah satu hal yang sering dikaitkan dengan ibu
yang merokok selama kehamilan.
Salah
satu yang menarik walau di berbagai kesempatan iklan rokok selalu menampilkan
kejantanan seorang pria, namun rokok sendiri berperan terhadap menurunnya
kejantanan itu. Impotensi merupakan bahaya merokok yang sering dtuliskan bahkan
pada peringatan pemerintah terhadap bahaya merokok. Kenyataannya masih banyak
laki-laki yang tidak segan-segan merokok sampai beberapa puluh batang sehari.
BAHAN - BAHAN YANG ADA DI DALAM SEBATANG ROKOK
Jadi fikirkan lah jika anda ingin jadi seorang perokok.........






0 komentar:
Posting Komentar